TELADAN PARA ULAMA DALAM MENULIS ILMU

▬▬•◇✿◇•▬▬
🍃TELADAN PARA ULAMA DALAM MENULIS ILMU🍃
▬▬•◇✿◇•▬▬

1️⃣ Al-Imam Az-Zuhri

Al-Imam Az-Zuhri adalah ulama besar, apa yang beliau lakukan?

إن الزهري ربما كتب الحديث في ظهر نعله مخافة أن يفوته

“Sesungguhnya Al-Imam Az-Zuhri itu terkadang menulis hadits di punggung sendalnya, khawatir dia lupa terhadap hadits tersebut.”

Lagi mendengar hadits tidak membawa buku, tidak membawa kertas, tidak ada pelepah kurma, maka dia tulis di atas sendalnya. Subhanallah. Lihat bagaimana para ulama, ini imam besar ilmu hadits, hafalannya luar biasa, siapa yang tidak kenal Imam Az-Zuhri? Namun masih saja khawatir lupa. Ini yang harus kita renungkan.

Lihat bagaimana para ulama mengamalkan sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Mereka benar-benar mengamalkan hadits sesuai dengan kemampuan mereka. Kalau tidak ada apa-apa kecuali sendal, ya sudah tulis saja di sendal.

2️⃣ Sa’id bin Jubair

Sa’id bin Jubir adalah salah satu muridnya ‘Abdullah bin ‘Abbas dan salah satu orang yang mendapatkan rekomendasi oleh ‘Abdullah bin ‘Abbas dan telah diizinkan berfatwa walaupun dia sedang bersama ‘Abdullah bin ‘Abbas.

Sa’id bin Jubair pernah menceritakan bagaimana beliau menuntut ilmu dengan ‘Abdullah bin ‘Abbas, beliau mengatakan:

ربما أتيت ابن عباس فكتبت في صحيفتي حتى أملأها، وكتبت في نعلي حتى أملأها، وكتبت في كفي

“Terkadang ketika aku mendatangi ‘Abdullah bin ‘Abbas, aku mencatat ilmu dari beliau dan aku catat di buku tulisku sampai aku habiskan buku tulis tersebut. Ketika buku telah habis, maka aku catat di sendalku sampai sendalku penuh dengan tulisan. Akhirnya aku catat di telapak tanganku.”

Subhanallah. Ulama, orang yang direkomendasikan oleh ‘Abdullah bin ‘Abbas, orang yang memiliki daya ingat yang luar biasa masih mencatat, bagaimana dengan kita? Maka hendaklah kita catat baik-baik ilmu yang diberikan oleh guru/ustadz-ustadz kita.

3️⃣ Imam Asy-Syafi’i

Muhammad bin Idris Rahimahullahu Ta’ala, ulama yang sangat luar biasa. Beliau menceritakan bagaimana beliau menuntut ilmu agama. Beliau mengatakan:

فكنت أجالس العلماء، وكنت أسمع الحديث أو المسألة فأحفظها، ولم يكن عند أمي ما تُعطيني أشتري به قراطيس، فكنت إذا رأيت عظمًا يلوح، آخذه فأكتب فيه

“Aku dahulu duduk bersama para ulama, dan aku mendengarkan hadits atau permasalahan-permasalahan agama dari para ulama tersebut, maka aku menghafalkannya. Dan pada saat itu ibuku tidak punya uang untuk membelikan kertas untuk menulis. Oleh karena itu apabila aku berjalan dan aku melihat ada tulang, maka aku ambil tulang tersebut dan aku tulis ilmu di tulang-belulang itu.”

Padahal daya ingat beliau luar biasa. Bahkan dikisahkan kalau beliau membaca buku dan beliau membaca halaman pertama, maka beliau menutup halaman kedua dengan tangan beliau. Beliau melakukan hal tersebut karena khawatir terbaca lalu terhafal. Dan kalau terhafal, maka hafalan di otak beliau itu berantakan, yang harusnya ada di halaman kedua menjadi halaman pertama. Subhanallah.

Bagaimana dengan kita? Apakah kita masih punya alasan untuk tidak mencatat? Maka perlu dicatat karena hafalan kita tidak seperti Imam Syafi’i. Dan kita harus memiliki keinginan untuk memiliki dan menambah ilmu. Bagaimana tidak menginginkan penambahan ilmu, sedangkan Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatakan:

يَرْفَعِ اللَّـهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

“Allah meninggikan derajat orang-orang beriman dan berilmu di antara kalian.” (QS. Al-Mujadilah[58]: 11)

Semakin dalam ilmu kita, maka semakin tinggi kedudukan kita di hadapan Allah. Mengapa kita malas mencatat?

4️⃣ Abu Qilabah

Abu Qilabah mengatakan:

الكتاب أحب إلي من النسيان

“Menulis lebih aku sukai daripada lupa.”

Jadi lebih baik aku capek menulis daripada ilmu tersebut lupa dari ingatanku. Karena kalau aku tidak memiliki ilmu, maka kedudukanku di hadapan Allah pun sesuai dengan rendahnya ilmuku tersebut.

▬▬•◇✿◇•▬▬

✍️ #TemanNgaji
🌹 Barakallahu fiik

➖➖➖➖➖➖ Sebarkan info nasehat ini di sosial media antum, semoga menjadi amal jariyah bagi kita semua. Jazakumullohu Khoiron ➖➖➖➖➖➖